
Saat diserang sakit yang membandel, seringkali dokter meresepkan antibiotik untuk pasiennya. Memang sih, dengan minum obat antibiotik, akan lebih cepat menyembuhkan penyakit yang diderita. Bahkan, seringkali antibiotik belum habis, kita sudah berhenti mengkonsumsinya. Padahal sesuai saran dokter, antibiotik harus diminum habis sesuai resep.
Dokter menyarankan agar antibiotik dihabiskan.
Dokter menyarankan agar pasien menghabiskan antibiotik sesuai resep sekalipun pasien sudah merasa sehat. Alasan yang dikemukakan salah satunya adalah dengan mengkonsumsi sesuai jangka waktu yang disarankan, supaya pasien tidak "kebal" atau adanya risiko perkembangan resistensi terhadap antibiotik yang sama jika dikonsumsi di kemudian hari.
Tetapi, sebuah studi yang dimuat oleh Medical Daily justru menyatakan kebalikannya. Belum ditemukan dasar pembuktian yang kuat soal pengoptimalan durasi terapi antibiotik.
Antibiotik mudah ditoleransi tubuh dengan baik.
Kebanyakan antibiotik, seperti penisilin, sebetulnya mudah ditoleransi tubuh dengan baik. Efek sampingnya jarang terjadi ataupun terjadi dalam skala kecil, misalnya diare dan alergi. Jadi antibiotik tipe seperti ini sebetulnya dapat diberikan dalam dosis kecil dan jangka waktu yang pendek.
Bagaimana dengan "efek kebal" yang dikhawatirkan?
Perkembangan resistensi atau efek kebal didasarkan pada asumsi implisit bahwa efek kebal disebabkan paparan zat-zat yang terkandung dalam antibiotik yang meningkatkan level resistensi dalam tubuh. Tetapi rupanya hal ini hanya ditemukan saat percobaan di laboratorium, belum ada bukti yang menunjukkan pengaruhnya secara klinis.
Antibiotik harus dikonsumsi dan dibeli menggunakan resep dokter. Meskipun kita tidak mengetahui pasti durasi pengobatan dengan antibiotik, tetapi setidaknya kita memiliki pengalaman dan bukti bahwa antibiotik aman dan efektif melawan penyakit sekalipun ada risiko diare, alergi bahkan obesitas karenanya.
0 comments:
Post a Comment